Ekspor/Impor (1)
Fertilitas (12)
Indeks Harga Perdagangan Besar (1)
Indeks Tendensi Bisnis (3)
Indeks Tendensi Konsumen (3)
Inflasi (4)
Kemiskinan (6)
Kependudukan (3)
Laju Pertumbuhan Penduduk
Kesehatan (1)
Ketenagakerjaan (5)
Migrasi (6)
Morbiditas (4)
Mortalitas (9)
Nilai Tukar Petani (4)
PDB/PDRB (7)
Pembangunan Manusia (3)
Pendidikan (7)
Laju Pertumbuhan Penduduk - BPS Tolikara
Laju Pertumbuhan Penduduk
Growth Rate of Population
Angka yang menunjukan tingkat pertambahan penduduk pertahun dalam jangka waktu tertentu. Angka ini dinyatakan sebagai persentase dari penduduk dasar.
Laju pertumbuhan penduduk dapat dihitung menggunakan tiga metode, yaitu aritmatik, geometrik, dan eksponesial. Metode yang paling sering digunakan di BPS adalah metode geometrik.
Manfaat
Untuk mengetahui perubahan jumlah penduduk antar dua periode waktu. 

Rumus
(metode geometri)
r : Laju pertumbuhan penduduk
Pt : Jumlah penduduk tahun t
P0 : Jumlah penduduk tahun awal
t : periode waktu antara tahun dasar dan tahun t (dalam tahun)

Interpretasi
  • LPP > 0 berarti terjadi penambahan penduduk.pada tahun t dibandingkan dengan tahun sebelumnya.
  • LPP = 0 berarti tidak terjadi perubahan jumlah penduduk pada tahun t dibandingkan dengan tahun sebelumnya.
  • Pt,0 < 100 berarti terjadi pengurangan jumlah penduduk pada tahun t dibandingkan dengan tahun sebelumnya.

Sumber Data
Sensus Penduduk, Survei Penduduk Antar Sensus (SUPAS).

Level Penyajian
Nasional, provinsi, Kabupaten/Kota

Publikasi
Statistik Indonesia, Daerah Dalam Angka

Penyedia Informasi
Direktorat Statistik Kependudukan dan Ketenagakerjaan

Keterbatasan
Penghitungan laju pertumbuhan penduduk dengan metode geometrik menggunakan asumsi bahwa jumlah penduduk akan bertambah secara geometrik menggunakan dasar penghitungan bunga majemuk. 

Implementasi
Kepala BKKBN Optimistis Laju Pertumbuhan Penduduk Turun 1,1%
JAKARTA (Suara Karya) Kepala Badan Koordinasi Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) Sugiri Syarief optimistis, laju pertumbuhan penduduk Indonesia akan menurun dari 1,3 persen per tahun saat ini menjadi 1,1 persen pada 2010.
Pencapaian target penurunan pertumbuhan menjadi 1,1 persen itu dapat terpenuhi. Ini didasarkan pada kesadaran masyarakat mengikuti program KB yang tampak terus meningkat atau mencapai 61 persen dari pasangan usia subur (PUS). 

Juga adanya kesadaran masyarakat yang tinggi untuk membentuk keluarga kecil dengan dua anak lebih baik.
"Selain itu, dukungan para tokoh masyarakat dan agama serta dukungan dari kelembagaan pemerintah, khususnya hampir seluruh pemerintah kabupaten/kota, telah menjadikan urusan KB dan pemberdayaan perempuan sejajar dengan urusan sektor lainnya," kata Sugiri, menjawab pertanyaan wartawan usai membuka rapat koordinasi nasional (rakornas) Kemitraan Program Kependudukan dan KB dengan LSM (Ikatan Bidan Indonesia, Muslimat NU, dan Aisyiah), di Jakarta, Jumat lalu.

Dicontohkannya, laju pertumbuhan penduduk Indonesia pada tahun 1970 mencapi 2,7 persen per tahun. Namun, berkat program KB, ramalan para pakar bahwa penduduk Indonesia pada tahun 2000 akan menjadi 280 juta jiwa tidak benar. Sebab, ternyata jumlahnya hanya sekitar 200 juta jiwa, atau selama 30 tahun Indonesia mampu menekan jumlah penduduk sekitar 80 juta jiwa.

Penekanan tambahan penduduk 80 juta jiwa itu menggambarkan bahwa program KB mampu mengurangi beban biaya negara dari sektor pelayanan kesehatan, pendidikan, dan penyediaan lapangan pekerjaan.

Melalui revitalisasi program KB bahwa kesertaan program KB pada pasangan usia subur (PUS) yang pada 2009 sebanyak 61,4 persen akan meningkat minimal satu persen per tahun, sehingga angka kesuburan perempuan
(total fertility rate-TFR) dari 2,6 anak saat ini juga dapat diturunkan menjadi 2,0.

"Jika kesertaan KB naik satu persen per tahun dari 61 persen pada 2008, maka jumlah penduduk Indonesia pada tahun 2015 akan menjadi 237 juta jiwa. Jika kesertaan KB statis, maka jumlah penduduk 255 juta jiwa Dan jika kesertaan KB menurun, jumlah penduduk menjadi 264 juta jiwa pada 2015," katanya.

Sugiri juga mengemukakan, perkembangan kependudukan yang tidak terarah dapat menjadi batu sandungan bagi pelaksanaan pembangunan nasional yang berkelanjutan. "Dalam konteks ini, peran dan kontribusi LSM sangat sentral dalam menopang pembangunan pada masa yang akan datang," katanya.

Tentang dimasukkannya program kependudukan dalam organisasi BKKBN, seperti diamanatkan UU No 52 Tahun 2009, menurut Sugiri, karena masalah kependudukan adalah masalah negara yang tidak dapat berdiri sendiri (SlnxgDi BS/Budi Sino)

Sumber: http://bataviase.co.id/node/96137
Diakses tanggal 10 Desember 2010

© 2013 Badan Pusat Statistik Tolikara BPS Republik Indonesia     BPS Provinsi Papua
Jalan Kota Baru, Kamp. Gurikme, Distrik Karubaga, Kab. Tolikara, Papua | bps9418@bps.go.id | @BPS_Tolikara